Jumat, 10 Oktober 2008

ULAMA ACEH SEBAGAI OASIS MASYARAKAT

Muliadi Kurdi

Ulama adalah salah satu kata yang diderivasi secara etimologis dari unsur bahasa Arab, yaitu ‘ulama’ bentuk jamak dari kata, ‘aalimun, maknanya yang mengetahui (al-Marbawi: 40) atau orang yang mempunyai pengetahuan secara mendalam. Jadi secara semantik ulama berarti orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan tentang agama.
Ulama dalam konteks di atas mempunyai kesamaan makna dengan kata “guru” dalam mengajarkan ilmu pengetahuan kepada masyarakat. Aku adalah seorang ”hamba” bagi orang yang telah mengajarkanku walau satu huruf, demikianlah dalam sebuah ungkapan yang disampaikan oleh Sayyidina Ali Karamallahu Wajhah untuk seorang guru. Mengingat besar peranan guru dalam membangun peradaban umat manusia, Ahmad Amin penyair terkenal Mesir juga pernah mengeluarkan kata-kata yang sama untuk sang guru, ”kadal mudarrisu ayyakuna rasula” (hampir saja guru itu menyamai rasul).
Pernyataan Ahmad Amin di atas indentik dengan hadith Rasulullah saw., ketika beliau memberikan apresiasi kepada ulama sebagai guru umat. Dalam hadith beliau bersabda, ”al-ulama-u warathatul ambiya, para Nabi tidak mewariskan dinar dan tidak pula dirham, melainkan mereka hanya mewariskan ilmu.” (HR Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibn Majah).” Artinya ulama itu penerus cita-cita para nabi untuk mengajarkan pengetahuan kepada masyarakat.
Di Aceh, ulama sering diindentikkan dengan kata ”guree” adalah sebuah ”laqab” yang tidak mudah didapatkan dalam masyarakat biasa, jika tidak memiliki pengetahuan dan karisma. Seorang ”guree” memiliki akhlak yang terpuji, berwibawa sehingga disegani oleh murid-murid dan masyarakatnya. Maka tidak heran ketika seorang guree menyampaikan sesuatu kepada masyarakat akan sangat berpengaruh bagi masyarakatnya.
Bumi Aceh telah dikenal oleh masyarakat Nusantara sejak masa kesultanan dengan sebutan “bumi syariat”. Istilah bumi syariat ditandai dengan sebutan “Serambi Mekah” adalah serambi tempat pertama kedatangan Islam di Nusantara, yang pada awalnya dirintis oleh Rasulullah saw., di Makkah. Masyarakat yang hidup di bumi ini dulunya sangat taat beribadah, dan mempunyai kesejahteraan di bawah naungan hukum syariat. Konsekwensi ini tidak terlepas dari kiprah para ulama pada masa ini. Para ulama-lah yang telah memformat dan membawa harum nama negeri menjadi bahagian dari Makkah al-Mukarramah.
Pemikiran fikih dan tauhid Syekh Hamzah Fansuri, Syekh Syamsuddin as-Sumatrany, Syekh Abdurrauf As-Singkili, Syekh Nuruddin Ar-Raniry dan lain sebagainya telah memberi corak tersendiri bagi masyarakat dalam mengamalkan ajaran Islam pada masa ini. Sebuah kitab tauhid karya monomental Hamzah Fansuri yang berjudul, “Zinatul Muwahhidin” yang tidak disebutkan tahun penulisannya telah mempengaruhi pemikiran dalam mengamalkan ibadah tauhid pada masanya. Hamzah Fansuri telah mengajarkan masyarakat Aceh tentang keimanan kepada Allah dengan menafsirkan beberapa ayat al-Quran yang berkaitan dengan pembahasan yang dimaksud misalnya, Kama Qala Ta’ala, “Yaayyuhallazina Amanu Tubu Ilallahi Taubatan Nasuha” yakni hai mereka itu yang beriman taubatlah kamu seperti taubat nasuha yakni setelah taubat jangan kembali lagi. Kama Qala Ta’ala, “Innallaha Yuhibbut tawwabina wayuhibbut mutathahhirin”, yakni bahwasanya Allah Ta’ala kasih akan segala orang taubat dan kasih akan segala orang yang menyucikan dirinya dan tarku ad-dunyanya (meninggalkan dunia) yakni jangan menaruh banyak-banyak daripada dimakan dan diperkayan karena sabda Rasulullah, “Tarku ad-dunanya ra’su kulli ‘ibadatin hubbu ad-dunya ra’su kulli khati’atin” yakni meninggalkan dunia kepada kebajikan, kasih akan dunia kepada segala kejahatan dan sabda Nabi Sallallahu Alaihi wasalllam, “Kum Fiddunya Ka’annaka Gharibun Aw ‘Abirun Sabalin Wa’udda Nafsaka min Ashabil Qubur”, yakni jadikan dirimu dalam dunia seperti dagangan atau seperti orang melalui jala dan bilangan dirimu daripada isi kubur dan tawakal hendak karena sabda Nabi sallallahu Alaihi wasallam.( Hamzah Fansuri, Zinatul Muhahhidin, (terj.) M. Yusuf USA: 2005)
Penjelasan di atas kiranya menjadi ”cermin” para ulama yang hidup masa sekarang dan yang akan datang; betapa ulama dulu telah berbuat, memformat Aceh dan meninggalkan banyak karya untuk ummat. Untuk mengapai cita-cita ini tidaklah mudah, tapi butuh kepada perjuangan, keikhlasan dan kesabaran. Ketika semua ketentuan ini dapat diljalankan dengan baik maka ulama telah mampu mengembalikan nilai keulamaan sesuai dengan fitrahnya. Bahkan ulama yang demikian telah digambarkan oleh hadith Rasulullah Saw bahwa penghuni langit dan bumi senantiasa memohonkan ampun bagi orang ’alim. Orang yang alim dan bertaqwa kepada Allah pasti akan dijamin oleh Allah Swt. Jika para ulama benar-benar menjalankan amanah risalah dalam menolong agama Allah, pasti Allah akan menolong mereka dan meneguhkan kedudukan mereka (Qs. 47:7). wallahu’alam bishawaab

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

<< Beranda