Sabtu, 21 Juni 2008

HAJI DAN KA’BAH

HAJI DAN KA’BAH

Oleh: Muliadi Kurdi, S.Ag., M.Ag

Haji adalah pergi ke Mekkah mengujungi ka’bah dan melaksanakan serangkaian ibadah dalam mentaati Allah dan rasul-Nya. Ibadah haji merupakan ibadah yang telah diwajibkan oleh Allah swt., kepada umat manusia melalui Al-Quran, ”...mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan kepadanya...”(Qs. 4: 97). Dalam hadits Abu Hurairah ra., yang diriwayatkan oleh imam Bukhari, Ahmad, Nasai dan Ibn Majjah, Rasulullah saw., bersabda, ”Barangsiapa yang melaksanakan haji dan tidak berbuat rafaz (perkataan keji yang membangkitkan syahwat) dan fisik, sekembali dari haji ia seperti anak yang baru dilahirkan ibunya.” Dalam hadits yang diriwayatkan dari Abdullah Ibn Jarrad, Rasulullah saw., bersabda, ”Laksanakanlah haji sesungguhnya haji itu menghapus dosa sebagaimana air membersihkan kotoran.” Dalam kesempatan lain, Rasulullah saw., juga menyampaikan bahwa harta yang dikeluarkan untuk haji sama seperti mengeluarkan harta untuk berjihad di jalan Allah, satu dirham dilipatgandakan menjadi tujuh dirham.” (HR. Ahmad dan Baihaqi dari Buraidah). Penjelasan ini menerangkan betapa besarnya penghargaan dan imbalan yang diberikan Allah kepada orang-orang yang melaksanakan ibadah haji secara tulus ikhlas.

Sejarah Haji

Haji merupakan realisasi tujuan para nabi dan umat manusia. Terdapat bayak riwayat yang mengungkapkan bahwa para malaikat juga pernah melakukan haji. Syaikh Sayyid Rida, ketika ditanya oleh salah seorang muridnya, siapakah orang pertama yang melakukan haji ke rumah Allah di Mekkah?. Ia membenarkan bahwa para malaikat yang pertama kali melakukan perjalanan kepadanya kemudian diikuti oleh para nabi dan umat manusia setelahnya.

Syaikh Ja’far Al-Shadiq, ketika ditanya oleh muridnya apakah ada yang melakukan haji sebelum Nabi Muhammad saw., ia membenarkan dan mengutip beberapa ayat al-Quran yang merekam kronologis kesejahan Musa dan Syuaib as., ketika hendak mengawini salah seorang puteri Syuaib as. Syuaib berkata, ”Sesungguhnya aku bermaksud menikahkanmu dengan salah seorang dari kedua putriku ini dengan syarat (mahar) engkau bekerja denganku selama delapan musim haji.” (Qs. 28: 27). Pada ayat ini Allah swt., telah menggunakan kata musim untuk menggantikan atau menghitung tahun, yang menunjukkan bahwa ibadah haji sudah mentradisi dan jauh dikenal sebelum Nabi Muhammad saw.

Rasulullah saw., mengatakan bahwa ketika beliau melewati wadi azra’ (lembah hijau), salah satu lembah antara kota Mekkah dan Madinah, ”Seakan-akan aku melihat Musa turun dari gundukan tanah sambil bertalbiyah melewti lembah ini.” Begitu juga ketika beliau melewati gundukan Hasya, ia berkata, ”Seakan-akan aku melihat Yunus as., sedang menunggang Unta melewati jalan ini sambil bertalbiyah.”

Penjelasan ini menjadi bukti sejarah bahwa haji merupakan tujuan dan menjadi cita-cita para malaikat, nabi dan umat manusia sampai kapanpun.

Ka’bah dan Sejarahnya

Ka’bah adalah bangunan kuno yang berbentuk kubus persegi empat dan merupakan warisan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail as. Bangunan ini terletak di kota Mekkah tepatnya di tengah Masjid al-Haram. Bagi umat Islam mengunjungi ka’bah merupakan bahagian yang paling penting dalam melaksanakan ibadah haji. Sejak abad ke-2 H, bangunan tua ini telah ramai dikunjugi dan diyakini sebagai kiblat umat Islam yang sebelumnya menghadap ke Mesjid al-’Asha di Yarussalem (Qs. 2: 144). Dari kesejarahan ini ka’bah mempunyai kedudukan yang paling terhormat dan banyak dikunjungi masyarakat Arab maupun non Arab sebelum maupun setelah Islam hadir ke negeri Arab. Indikator ini sangat erat kaitannya dengan doa Nabi Ibrahim as., ketika Allah swt., menyuruhnya untuk berdoa, ”...dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengenderai Unta yang kurus datang dari segenap penjuru yang jauh. Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan....(Qs. 17:27).

Dalam literatur sejarah awal pendirian Ka’bah bahwa untuk pertama kalinya bangunan ini telah didirikan oleh Nabi Adam as., dan meletakkan hajar al-aswad (batu hitam) di tengahnya. Kemudian bangunan ini hancur ditimpa banjir bah pada masa Nabi Nuh as., sementara hajar al-aswad dipindahkan Tuhan ke tempat yang telah dirahasiakan.

Beberapa hadits, termasuk hadits yang diriwayatkan shahihain membenarkan bait al-’athiq (ka’bah), setelah Nabi Adam as., bertemu dengan isterinya Hawa sejak diturunkan dari Syurga Allah swt., memerintahkannya membangun ka’bah. Pendapat ini diyakini setelah merujuk kepada ayat yang terdapat dalam surat al-Hajj. Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim as., di tempat baitullah (dengan mengatakan), ”Janganlah kamu mempeserikatkan sesuatupun dengan Aku dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang beribadat, dan orang-orang yang ruku’ dan sujud.” (Qs. 17: 26). Ayat ini dipahami oleh para mufassir mengatakan tidak terdapat kalimat yang menguatkan bahwa Nabi Ibrahim as., adalah orang pertama yang membangun Ka’bah. Bahkan mereka berpendapat, dengan mengambil sumber dari Ali bin Abi Thalib ra., kata makan al-bait dalam surat al-hajj tersebut menunjukkan bahwa rumah ini telah ada semenjak bumi dan langit itu ada. Dari pengertian ini dapat dipahami bahwa Ka’bah yang dibangun Nabi Ibrahim dan Ismail as., merupakan renovasi dan lanjutan dari cita-cita Nabi Adam as.

Makna Filosofis Ibadah Haji

Dalam melaksanakan ibadah haji akan kita temukan banyak hikmah antara lain:

1. Ihram

Ketika ihram seorang laki-laki tidak boleh memakai pakaian kecuali dua helai sarung tak berjahid yang dililitkan, pertama, pada bagian pusat bawah, kedua, bagian atas. Sedangkan perempuan tidak boleh memakai perhiasan. Ketentuan ini mempunyai makna yaitu penyerahan diri kepada Allah dan menjauhkan segala kekuatan semu; melepaskan segala ketentuan bentuk atribut duniawi yang dijadikan ukuran terhadap manusia, yakni pakaian dan perhiasan sehingga manusia tampak sama, sederajat dan hanya Allah saja yang besar; dan mengingatkan kita kepada hari akhirat.

2. Thawaf

Thawaf adalah mengelilingi Ka’bah pada hakikatnya suatu gambaran tetang perputaran hidup yang tidak pernah berhenti. Thawaf di Ka’bah bermakna bahwa seorang Muslim, dalam menghadapi perputaran hidupnya, harus beranjak dari Allah, menuju Allah dan di wilayah Allah. Semua menuju arah yang sama, yang berarti kaum muslimin harus bersatu dan menyatukan sikap dalam menghadapi kekuatan syirik. Di sisi lain, Sayyid Ali ra., mengumpamakan seseorang yang thawaf di Ka’bah bagaikan ”malaikat” yang thawaf di ’Arsy. Ini bermakna bahwa Ka’bah adalah pusat gerakan bumi sebagaimana ’Arasy adalah pusat gerakan alam semesta. Gerakan itu baru harmonis jika semua orang bergerak dari arah yang sama dan itu berarti bahwa seorang Muslim selalu harus berusaha untuk membuat seluruh bumi ini tunduk kepada Allah.

Kesyirikan kepada Allah, kekufuran, kesombongan, dan kediktatoran adalah nilai-nilai yang menghambat keharmonisan itu. Dengan demikian, seorang Muslim harus berada dalam peperangan dengan segala bentuk yang menjadi penghambat keharmonisan tersebut. Dan karena Ka’bah wujud ’Arasy di muka bumi maka thawaf di Ka’bah melambangkan keterikatan manusia dengan alam ghaib.

3. Shalat Dua Raka’at di Maqam Ibrahim

Al-Quran memerintahkan kita untuk menjadikan maqam Ibrahim sebagai tempat shalat, ”...dan jadikanlah maqam Ibrahim sebagai tempat shalat.” (Qs. 2: 125). Ini bermakna bahwa Allah menuntut kita untuk tunduk kepada agama Ibrahim. Terikat kepada prinsip-prinsip yang diajarkannya pada sikap-sikap yang dicontohkan dan tak lain hanyalah ajaran tauhid itu sendiri.

4. Sa’i antara Bukit Safa dan Marwah

Amalan sa’i merupakan peninggalan ibunda Nabi Ismail as., saat ia mencari air antara bukit Safa ke bukit Marwah. Usaha ini ia lakukan sampai tujuh kali berturut-turut. Perjalanan antara bukit Safa ke bukit Marwah melambangkan falsafah gerakan yang harus dipraktekkan manusia secara kontiyu, tidak boleh berhenti dan putus asa, sungguh-sungguh, tabah dan berada dalam wilayah yang telah ditetapkan Allah dan tidak boleh menyimpang dari ketentuan itu.

5. Wuquf di ’Arafah

’Arafah adalah padang tandus berpasir terletak 225 meter di atas permukaan laut. Di sebelah Timur ’Arafah berbatasan dengan penggunungan Thaif dan sebelah Utara membujur bukit-bukit yang tingginya kira-kira 30 meter yang dinamakan dengan bukit ’arafah. Sedangkan di Selatan padang ’Arafah terletak Jabal Rahmah yang merupakan salah satu tempat mustajabah doa bagi kaum muslimin. Dalam hadits disebutkan bahwa pada hari ’Arafah Allah telah menurunkan 70 ribu rahmat dari langit dalam setiap waktunya.

Menurut sejarah Nabi Adam dan Siti Hawa as., dipertemukan di ’Arafah setelah kedua tidak bertemu lebih kurang 100 tahun sejak diturunkan dari Syurga. Dengan demikian, ”Arafah merupakan suatu peristiwa yang sangat berarti dalam kehidupan Adam dan Hawa sehingga setiap tahunnya selalu diperingati dengan bersyukur kepada Allah swt. Ajaran ini pada akhirnya diwariskan kepada anak cucunya dengan cara berwuquf di ’Arafah. Ajaran wuquf termasuk inti dari ibadah haji, karena semua orang berpakaian sama, melakukan hal yang sama, mengungkapkan perkataan yang sama dan pada tempat yang sama. Semua berzikir, berdoa, bermunajat dan mengagungkan Allah. Tidak ada yang lain pada hari itu kecuali Allah. Wuquf menggambarkan persatuan umat Islam dan kebesaran kaum muslimim.

6. Melempar Jamarah

Jamarah merupakan satu pernyataan perang anak manusia terhadap syaithan yang selalu memusuhinya, kapan dan dimanapun ia berada. Sejarah mencatat peristiwa ini dilakukan pertama kalinya oleh Nabi Ibrahim bersama puteranya Nabi Ismail as., saat Ibrahim hendak menyembelih peteranya Ismail as. Pada saat Nabi Ibrahim hendak mempesembahkan korban untuk Tuhannya datanglah syaithan penggoda agar ibadah kurban tidak jadi dilaksanakan. Dalam persitiwa itu, Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail as., mengambil batu dan melemparinya sebayak 3 kali lemparan. Banyaknya bilangan jamarah bukan saja melambangkan macam-macam jurus syaithan untuk memperdayakan umat manusia. Syaithan akan melakukan apa saja untuk menjerumuskan umat manusia. Karena itu manusia tidak boleh terlena dan terus menerus menampikkan dengan sekuat tenaga dan dengan usaha keras.

7. Kurban

Amalan qurban merupakan warisan Nabi Ibrahim as., ketika hendak berkorban puteranya Nabi Ismail as. Kemudian Allah tebus dengan seekor kibas sebagai gantinya. Pada amalan peyembelihan binatang telah dinobatkan sebagai ungkapan pengorbanan kepada Allah yang memiliki nilai dasar bahwa seorang yang berjuang di jalan Allah harus berkorban, sebab dengan pengorbanan akan meningkatkan imannya, membuat lebih terikat pada ajaran-ajaran agama dan memberi pengalaman terhadap ajaran Islam di muka bumi secara lebih luas. Selain itu, karena daging-daging binatang sembelihan itu dimasukkan untuk fuqaha dan masakin, maka amalan kurban itu sekaligus menanamkan rasa solidaritas yang tinggi terhadap kaum fuqaha dan masakin yang merupakan ajaran Islam yang paling mendasar.

8. Cukur rambut dan potong Rambut

Al-Quran menjelaskan, “Sesungguhnya Allah pasti akan mewujudkan mimpi yang telah dilihat Rasul-Nya dengan benar, bahkan kamu pasti akan memasuki ”masjidil haram isyaAllah” dalam keadaan aman, mencukur rambut dan mengguntingnya, sedangkan kamu tidak merasa takut.” (Qs. 48: 27). Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa Allah telah menjanjikan kaum Muslimin yang ada bersama rasul, dalam waktu dekat Mekkah akan ditaklukkan, dan dengan demikian akan dimulailah babak baru perjalanan Islam menuju kejayaan. Mereka akan memasuki kota Mekkah dengan penuh kewibawaan tanpa berani mengusik. Al-Quran melambangkan keamanan itu dengan dapatnya kaum Muslimin mencukur atau memotong rambut mereka tanpa ada yang meganggu. Dengan demikian seseorang yang sedang melaksanakan haji berarti ia sedang berada di wilayah Allah, dan Allah berjanji melindunginya dari segala bahaya dan memberikan rasa aman kepadanya.

9. Talbiyah dan Doa-doa

Seorang yang sedang melaksanakan ibadah haji selalu menglafalkan puji-pujian dan doa-doa yang sarat dengan nilai tauhid kepada Allah swt. Ungkapan yang paling sering diucapkan adalah ”labbaykallah humma labbay” dan seterusnya. Artinya aku memenuhi panggilan-Mu ya Allah. Ungkapan ini memberi isyarat bahwa seorang muslim harus mengakui keesaan Allah dalam segala hal. Dengan membaca talbiyah seorang haji menyatakan dirinya sebagai penganut tauhid, siap menerima perintah Allah, bersedia memerangi taghut untuk mewjudkan tauhid di muka bumi. Ia juga menyatakan diri ke dalam kafilah yang menerima seruan bersejarah Ibrahim as., untuk berjuang membela dan merealisasikan nilai tauhid di muka bumi. Ibarahim as., adalah pembela ajaran tauhid sejati dan dengan menyatakan masuk ke dalam ajaran Ibrahim, ia telah menyatakan diri menjadi salah seorang prajurit yang siap membela dan mempertahankan nilai-nilai tauhid dengan melawan segala bentuk kedhaliman, kemusyrikan dan kekafiran.

Penulis adalah Dosen pada IAIN Ar-Raniry dan peneliti pada Ar-Rijal Institute Banda Aceh. Tulisan ini pernah dipubikasikan di harian serambi Indonesia

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

<< Beranda