Kamis, 02 Oktober 2008

Menelusuri Jejak Ulama Besar Syekh Hamzah Fansuri di Ranah Oboh

PENDAHULUAN
Oboh adalah sebuah desa yang terletak di Kecamatan Rundeng dalam wilayah Kota Subulussalam, Aceh. Desa ini termasuk salah satu desa yang berpenduduk tidak begitu ramai, sederhana dan memiliki pola hidup yang sangat bersahaja. Masyarakat Oboh hidup dan bermata pencaharian sebagai petani, mayoritas mereka berpenghasilan rendah. Namun satu hal yang membanggakan mereka bahwa Syekh Hamzah Fansuri seorang ulama besar Aceh; sufistik yang sudah dikenal di Nusantara pernah hidup dan di desa pula sang Syekh dimakamkan tepatnya di desa Oboh ini. Untuk sampai ke desa tujuan, kita harus menempuh perjalanan sungai dengan memakai perahu mesin atau ”perahu robin” dari ibukota Kecamatan Rundeng dengan jarak tempuh lebih kurang 20 sampai 25 menit.
Menurut cerita, Hamzah Fansuri di masa hidupnya pernah menetap di beberapa tempat dalam wilayah Aceh Singkil. Ia sering memakai nama samaran sesuai dengan tempat dimana ia berdomisili, misalnya julukan ”Mbah Oboh” ketika ia berdomisi di desa Oboh. Pada satu waktu di musim tanam tiba ia menabur dan menanam 1 mud benih padi dan ketika panen menghasilkan 1 mud padi artinya tidak lebih dan tidak kurang. Saat itu pula ia berkata kepada muridnya ”tanah ini tidak pernah dusta”, bila suatu hari nanti saya dipanggil oleh Sang Khalik maka tolong kuburkan saya di tanah ini yang dimaksud tanah di desa Oboh. Cerita ini sudah sangat terkenal di kalangan masyarakat Kota Subulussalam dan sekitarnya sebagaimana diungkapkan oleh Damhuri asisten 2 Kota Subulussalam dan Haji Muhammad Layari Kombih Imuem Mukim Kombeh dan Teungku Khalid imam Meunasah desa Oboh, 24 Ramadhan 1429 H.
Selain itu, kita juga dapat melihat bahwa sebelum Hamzah Fansuri menetap di desa Oboh diperkirakan ia telah mengembara ke berbagai pelosok Nusantara seperti Pahang, Banten, Siam, Jarussalem, Makkah dan Bagdad. Hal ini dilakukannya dalam rangka memperkaya khazanah ketauhidan sebagai jalan menuju ma’rifatullah. Untuk mengetahui lebih jauh tentang beliau dapat dilihat dari ungkapan syair berikut ini yang disyarah oleh Abuya Prof. Dr. Muhibbuddin Waly al-Khalidy antara lain:
I
Hamzah Fansuri di dalam Makkah
Mencari Tuhan di Baitul Ka’bah
Dari Barus ke Kudus terlalu payah
Akhirnya terdapat di dalam rumah

Syarahku:
Desa Fansur lahir Fansuri Sayyidil Mukammal gelar Sulthani
Singkil itu kotanya negri Abad ke lima belas penguasa Asyi
Pantai Barat sumatra daerah ini Kekuasaan Aceh stabil kembali
Alauddin Riyatsyah IV sultannya Asyi Iskandar Muda datang mengganti

Dengan Syiah Kuala satunya negri Hamzah berkunjung ke banyak negri
Desa lahirnya juga Fansuri Sumatra dan Jawa beliau pergi
Syiah Kuala ulama Fiqhi Siam dan Pahang dia masuki
Hamzah Fansuri pendekar sufi Makkah Madinah apatah lagi

Mencari Ilmu tauhinya Rabby Semuanya itu beliau cari
Tekad mencari Ilmu hakiki Tanah suci tempat mengali
Mencari kepuasan dalam hal ini Tidak didapat maksud dihati
Di mana saja beliau dapati Tapi dapat di Barus negri

Ilmu hakikat sudah dicari
Kemana-mana beliau pergi
Berkat yakin ’azam di hati
Mendapatkan juga se izin Rabby

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

<< Beranda