Selasa, 08 Juli 2008

FILSAFAT DAN HIKMAHFILSAFAT DAN HIKMAH

FILSAFAT DAN HIKMAH
Muliadi Kurdi, S.Ag.,M.Ag


Secara etimologi kata “filsafat” itu diperkirakan berakar dari bahasa Yunani kuno dan ungkapan ini telah mentradisi sejak 500 tahun SM. Namun begitu, tidak berarti orang-orang Yunani kuno yang telah melahirkan filsafat atau berfilsafat bahkan dikatakan bahwa orang-orang Mesir dan orang-orang Islam tidak tinggal diam ikut ambil bagian di dalamnya. Maulana Abul Kalam Azad[1] mengatakan bahwa Mesir dan Irak telah mengembangkan tingkat peradaban yang tinggi sebelum Yunani. Sehingga kita pun mengetahui bahwa filsafat Yunani yang mula-mula amat dipengaruhi oleh filsafat purba Mesir lebih condong kepada sebuah renovasi (perbaikan) ketimbang inovasi (penemuan). Sebagai bukti misalnya, Empedokles telah belajar ilmu kepada Luqman al-Hakim di Syro-Palestina, pada masa Nabi Daud; Pythogoras diberitakan telah belajar ilmu fisika dan metafisika pada murid-murid Sulaiman di Mesir, dan belajar geometri pada orang-orang Mesir.[2]
Plato dalam tulisan, “Menimba hikmah (marxisme),” mengatakan bahwa para pendeta Mesir dengan cara yang menunjukkan betapa otoritas mereka itu sebagai sumber pengetahuan yang tidak dapat disangkal. Bahkan Aristoteles lebih maju selangkah mengatakan bahwa para pendeta Mesir purba adalah para filosuf yang pertama di dunia ini.[3] Hal ini ada kemungkinan mencari jejak filsafat pada satu periode lebih dahulu daripada Yunani Purba dan menentukan hakikat dan ruang lingkup perkembangannya pada tingkat dan masa itu.[4]
Dalam dunia Islam pengetahuan tentang filsafat telah dikenal jauh oleh pemeluknya biarpun ungkapan ini tidak dijelaskan secara eksplisit lewat kitab suci al-Quran. Namun demikian pembahasan tentang adanya ungkapan filsafat itu, al-Quran telah berulang kali menyinggung dan menyetarakan dengan ungkapan al-hikmah. [5] Ungkapan ini telah diperluas kajiannya setelah lahirnya para filosof muslim seperti al-Ghazali, Al-Farabi, Ibn Maskawaih, Ibn Tufail, Ibn Bajjah, Ibn Rusyd dan lain-lain.
Ungkapan “al-hikmah” dalam ungkapan al-Quran terulang tujuh kali berturut-turut, dari tujuh surat, di antaranya, "…serta Kami karuniayi kepadanya "al-hikmah" (kebijaksanaan).… (Qs. 38: 20) "…mereka orang-orang yang telah Kami berikan kitab suci dan "al-hikmah" (ilmu pengetahuan)…." (Qs. 6: 89) Bahkan al-Quran telah menyajikannya secara eksplisik tentang “al-hikmah”, seperti terdapat dalam surat Lukman surat ke-31, di mana pada awal surat itu Allah mulai kalam-Nya dengan simbolik-simbolik, alif, lam, mim, kemudian disusul dengan segera wacana, "Inilah ayat-ayat al-Quran yang mengandung "al-hikmah" (al-kitab al-hakim), yang menyebutkan secara langsung istilah "al-hikmah." Kemudian dalam ayat 12 surat ini disebutkan, "Dan sesungguhnya telah Kami berikan "al-hikmah" (kebijaksanaan) kepada Lukman, "Bersukurlah kepada Allah, dan barangsiapa bersukur, maka sesungguhnya Allah Maha kaya lagi Maha terpuji." Dalam ayat ini tampak jelas bahwa pemberikan "al-hikmah" dianggap sebagai anugerah bagi orang yang mau berterima kasih. Kebenaran ini didukung oleh ayat-ayat yang lain, "Allah memberikan “al-hikmah” (kebijaksanaan) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang diberi "al-hikmah" itu, sungguh telah diberi kebajikan yang banyak…." (Qs. 2: 269)
Dalam beberapa redaksi “hadith sahih” disebutkan bahwa Tuhan telah menawarkan kenabiyan atau filsafat (al-hikmah) kepada Lukman, tetapi Lukman memilih "al-hikmah." Yang dimaksud "al-hikmah" di sini merujuk kepada tradisi filsafat murni yang berhubungan dengan sang Khaliq Pencipta segala yang baharu. Hal ini terlihat dari ungkapan ayat berikut, "Dan Allah telah mengajarkan kepadanya kitab (al-kitab) dan kebijaksanaan (al-hikmah)." (Qs. 3: 48) "Dan Ingatlah ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi, "Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan "al-hikmah"….(Qs. 3: 81) Ada beberapa ayat telah menyebutkan kaitannya dengan kata “al-hikmah” secara berturut-turut, mereka yakin bahwa penyebutan ini menegaskan fakta bahwa apa yang telah Allah paparkan melalui wahyu… juga dipaparkan lewat "al-hikmah,". Penyingkapan ini dapat dicapai melalui akal pikiran karena akal pikiran itu sendiri merupakan refleksi mikrokosmik dari realitas mikrokosmik yang menjadi instrument wahyu.[6]
Syekh Muhammad `Abduh mengatakan, "Al-hikmah itu suatu ilmu yang sahih, bahkan ia suatu sifat yang ditetapkan dalam diri, jadi hakim pada “iradah” membawa manusia kepada kebahagiaan." Menurut `Abduh, yang dimaksud dengan ayat, “Allah memberikan “al-hikmah” kepada siapa saja yang Ia kehendaki,” artinya Allah memberikan akal yang sempurna serta taufiq kepada seseorang agar ia dapat menghasilkan ilmu yang sahih.[7]
Jika dilihat dari pengertian di atas bahwa ungkapan “al-hikmah”[8] itu dianggap berkedudukan lebih tinggi dari filsafat, namun begitu, keduanya ungkapan ini tidak bersifat dikotomis. Kalau filsafat itu mencari hakikat sesuatu, berusaha menautkan sebab akibat, dan berusaha menafsirkan pengalaman-pengalaman manusia...sedangkan “al-hikmah” itu usaha untuk mencapai kesempurnaan jiwa melalui konseptualisasi (tasawwur) atas segala hal dan pembenaran (tasdiq) realitas-realitas teoritis dan praktis berdasarkan ukuran kemampuan manusia. Titik persamaan antara kedua ilmu ini sama-sama mencari kebenaran terhadap hal-hal yang belum dapat dijangkau akal pikiran (di luar wilayah nalar).[9] Untuk menguatkan argumen di atas penulis mencoba mengutip pendapat dari Ibn Sina tentang “al-hikmah.” Ibn Sina lewat karyanya, "'Uyun al-Hikmah" berkata, "Al-hikmah” (yang baginya berarti sama dengan filasafat) adalah usaha untuk mencapai kesempurnaan jiwa melalui konseptualisasi (tasawwur) atas segala hal dan pembenaran (tasdiq) realitas-realitas teoritis dan praktis berdasarkan ukuran kemampuan manusia."[10]
Namun demikian, biarpun terdapat persamaan antara “al-hikmah” dan filsafat, seperti dalam ungkapan di atas, ada sisi-sisi yang berbeda antara kedua unkapan itu baik dari segi defenisi maupun dari segi realitasnya. Dalam perbedaan ini Bertrand Russel dan al-Syaibani menjelaskan bahwa “al-hikmah” suatu ilmu yang berusaha menjawab pertanyaan terakhir, tidak dangkal dan dogmatis, melainkan kritis sehingga kita sadar akan kekaburan dan kekacauan pengertian sehari-hari.[11]
Sedangkan filsafat, menurut al-Syaibani, mencari hakikat sesuatu... berusaha menautkan sebab dan akibat, dan berusaha menafsirkan pengalaman-pengalaman manusia.[12]Namun bergitu, perbedaan keduanya tidak begitu penting untuk dipersoalkan yang penting kita dapat memahami bahwa kedua ilmu ini telah memberikan performance terhadap sesuatu yang berbeda baik dari segi kualitas, kuantitas, kedudukan, wujud, ruang, waktu, relasi dan sebagainya.
Kajian kedua ilmu itu mempunyai arah yang sama, yakni mencari dan mencintai kebenaran. Pendapat ini dikukuhkan oleh al-Farabi (w. 950 M) di mana ia mengatakan bahwa falsafah itu berasal dari bahasa Yunani, yakni dari kata philosophia. Philo berarti cinta dan sophia berarti “al-hikmah,” philosophia berarti cinta akan “al-hikmah,” atau cinta kebenaran.[13]
Filsafat tentang alam bukan hanya sekedar mengetahui bahwa alam ini adalah suatu tempat untuk bermain dan bercocok tanam, tetapi juga dapat menguraikan sesuatu yang ada di alam ini sampai yang sekecil-kecilnya. Dengan demikian filsafat alam adalah mempelajari sedalam-dalamnya dari benda alam tersebut berdasarkan ketentuan hukum yang berlaku pada masing-masing tempat dan keadaan. Orang berfilsafat memikirkan segala sesuatu yang ada (being) dalam alam semesta ini, baik yang berkenaan dengan alam maupun manusia ataupun Tuhannya.
Filsafat membahas hal-hal itu secara keseluruhan, secara mendalam dan sistematis. Secara keseluruhan maksudnya bukanlah bagian-bagian tertentu dari ojek pemikirannya, tetapi memikirkan sesuatu sampai ke akar-akarnya yang paling redikal[14]dan sampai kepada sebab-akibat yang paling akhir (causa prima), tujuannya adalah untuk menemukan kebenaran yang sesungguhnya atau kebenaran yang hakiki,[15]yakni Tuhan (The absolute being).
Berfikir sistematis yaitu berfikir teratur dan dapat diterima akal. Aristoteles (384-322 S.M), seorang murid Plato dan guru raja Iskandaria dari Marcedonia, pernah ditanya gurunya tentang kebenaran, “Apakah kebenaran itu?.” Ia menjawab bahwa kebenaran itu subjektif sifatnya. Benar bagi si A belum tentu benar bagi si B begitu juga sebaliknya.[16] Howick (1971) mengatakan bahwa filsafat berusaha mencari pandangan yang menyeluruh atau komperehensif mengenai manusia dan alam semesta, yang berusaha melihat kesemuanya itu secara keseluruhan yang terpadu dan dalam hubungan yang tertib dan sempurna.
Immanuel Khant (1724-1804), yang sering disebut “pemikir raksasa” barat, mengatakan bahwa filsafat itu ilmu pokok dan pangkal segala pengetahuan yang mencakup di dalamnya empat persoalan, pertama, apakah yang dapat kita ketahui? (dijawab oleh metafisika).[17] Ke-dua, Apakah yang boleh kita kerjakan? (dijawab oleh etika).[18] Ke-tiga, sampai dimanakah pengharapan kita? (dijawab oleh Agama). Ke-empat, apakah yang dinamakan manusia? (dijawab oleh antropologi).[19]
Langeveld (1959: 10) berkomentar dalam masalah yang sama dengan mengatakan, "Filsafat itu mengatur dan memikirkan dan secara berfikir di tengah-tengah kesemestaan ia berusaha membenarkan, bukan saja yang dapat dibuktikan dengan tegas, tetapi juga apa yang tidak dapat ditolak seperti mati, keabadian, Tuhan, keadaan, makna kehidupan." Berkaitan dengan hal ini para ahli filsafat menyelidiki pengalaman-pengalaman yang tidak dapat ditolak dan tidak dapat dibuktikan, yang ditanyai dan dipikirkan sampai segala konsekwensinya bagi kesemestaan.
Berkaitan dengan penjelasan Kant di atas, Schopehauer (1788-1860) salah seorang filosuf kelahiran Jerman, menjelaskan dan mendukung pendapat Kant dengan mengatakan bahwa dunia pengalaman adalah dunia fenomena yang diandaikan oleh kudrat dari integensi manusia. Sedangkan jiwa memiliki bentuk-bentuk untuk menerap (ragam waktu) dan kategori-kategori untuk mengetahui. Mengetahui dapat dikembalikan pada kategori tunggal dan kausalitas.
Walaupun Schopenhauer seorang pendukung Kant, namun ada beberapa pendapat Kant yang ditolak terutama menyangkut masalah "kehendak diri," yakni pertama, ia berbeda dengan Kant, yaitu menganggap thing in itself (hakikat) dalam kesadaran dari tindakan melalui kehendak, kedua, kehendak adalah yang utama, abadi, tak bertempat, yang mengungkapkan diri-Nya ke dalam diri manusia sebagai dorongan insting, ketiga, manusia mengetahui diri-Nya sebagai fenomena, bagian dari alam, sebagai badan organik yang meluang, ke-empat, kehendak adalah diri yang nyata sedangkan badan ekspresi dari kehendak.[20]
Berkaitan dengan pendapat Langeveld di atas tentang kebenaran, Kristus juga membicarakan tentang kebenaran melalui sabdanya, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup….” Dalam agama Budha, sang Budha bersabda tentang kebenaran dan membaginya ke dalam lima kategori, yakni berkata benar, berfikir benar, berusaha benar, berperhatian benar dan bermeditasi benar. Sedangkan dalam agama Islam Nabi Muhammad saw., menyampaikan ayat al-Quran sebagai berikut, “Kebenaran itu dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang yang ragu.”[21]
Jadi, dengan demikian dapat kita katakan bahwa istilah kebenaran itu menjadi obsesi dari semua aliran filsafat atau agama di dunia. Begitu halnya dengan “al-hikmah” yang dikenal dengan “filsafat Islam” tak pernah berhenti mencari dan mengamalkan kebenaran. Jika “al-hikmah” telah menempati diri pada posisi filsafat Islam berarti ia adalah pengetahuan kebenaran yang mendalam, kearifan dan kebijakan sedangkan pengertian yang diperoleh dari fakta-fakta kejadian atau peristiwa.
Untuk sampai ke arah itu, filsafat Islam telah berupaya agar tidak semata-mata bersifat rasional, yang hanya bersandar pada analisa logis terhadap suatu peristiwa, tetapi juga jejak spiritual untuk memasukkan demensi supranatural. Rasionalitas filsafat Islam, terletak pada kemampuan yang menggunakan potensi berfikir secara bebas, radikal dan berada pada dataran makna, untuk menganalisis fakta-fakta emperik dari suatu kejadian dalam banggunan sistem pengetahuan yang ilmiyah.
Sedangkan transendensi terletak pada kesanggupan menggunakan daya, intuisi, imajinatif untuk menembus dan menyatu dalam kebenaran dalam kebenaran gaib secara langsung dan menjadi esensi kehadiran Allah dalam realitas kehidupan dan mengacu kepada dimensi eksternal wahyu al-Quran (syari`ah) maupun dengan kebenaran internal (haqiqah) yang merupakan jantung semua hal ajaran Islam.
Sejumlah keterangan yang terkait dengan dunia filsafat baik datangnya dari wahyu, hadith, maupun lainnya, mempunyai misi yang sama, yakni menyingkap eksistensi pengetahuan kebenaran sampai mendapatkan kebenaran yang hakiki... kebenaran yang dicari filsafat itu tak pernah berakhir atau tak penah menemukan sebuah titik temu yang abadi sebelum ia kembali pada agama.

BIBLIOGRAFI

Al-Quran dan Hadits

Al-Ghazali. Al-Munqiz min al-Dhalal. Kairo: Dar al-Kutub al-Hadithah, 1974.
al-Syaibani, Omar Mohammad al-Toumy. Filsafat Pendidikan Islam, (terj.), Hasan Langgulung, “Falsafah al-Tarbiyah al- Islamiyyah”, Cet. 1 Jakarta: Bulan Bintang, 1979.
Arifin, Muzzayyin. Filsafat Pendidikan Islam, Cet. 1. Jakarta: Bumi Aksara, 1994.
Atjeh, Aboebakar. Sejarah Filsafat Islam. Semarang: Toha Putera, 1970.
Hanifah, Abu. Rintisan Filsafat. Jakarta: tp, 1950.
Hoesin, Oemar Amin. Filsafah Islam. Jakarta: tp, 1961.
Kattsof, Louis O. Pengantar Filsafat, (terj.), Soejono Soemargono dari judul asli Element of Pholosophy, cet. 4. Yogyakarta: Bayu Indra Grafika, 1989.
Kraemer, Joel L. Renaisanse Islam; Kebangkitan Intelektual dan Budaya pada Abad Pertengahan, (terj.), Asep Saefullah, cet. 1. Bandung: Mizan, 2003.
Mudfir Ali. Kamus Filsafat Barat, cet. 1. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001.
Nasr, Sayyed Hossein dkk (ed.). Ensiklopedi Tematis Filsafat, (terj.), Tim Mizan, Cet. 1 Bandung: Mizan, 2003
Radhakrishnan, Sarvepalli (ed.). Historis of Philosophy, Eastern and Western, Volume 1 London: tp, 1952.
Syafi`i, Ibn Kencana. Al-Quran dan Ilmu Politik, cet. 1. Jakarta: Rineka, 1996.
Ya’qub, Hamzah. Filsafat Agama, Titik Temu Akal Dengan Wahyu. Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1992.

[1]Maulana `Abul Kalam adalah salah seorang cendikiawan Muslim berbangsa India, menulis dalam artikelnya, “The Meaning of Philosophy”…sebagai “introduction” atas buku yang dieditori Sarvepalli Radhakrishnan, seorang filosuf dan negarawan India, yang diberi judul, “History of Philosophy, Eastern and western.” Buku ini memuat tentang pengakuan penulis terhadap filsafat Yunani yang dipengaruhi oleh filsafat Mesir dan Irak.
[2]Joel L. Kraemer, Renaisanse Islam; Kebangkitan Intelektual dan Budaya pada Abad Pertengahan, (terj.), Asep Saefullah, cet. 1 (Bandung: Mizan, 2003), hal. 25.
[3]Sarvepalli Radhakrishnan, (ed.), Historis of Philosophy, Eastern and Western, Volume 1 (London: tp, 1952), hal. 14.
[4]Ibid.
[5] …wamai yuktl hikmata fa qad utia khaira kathira…, (Q.s. Al-Baqarah, 2: 269) Hadits, al-hikmat dalat al- mu`mini, (Bukhari dan Muslim)
[6]Sayyed Hossein Nasr, dkk (ed.), Ensiklopedi Tematis Filsafat, (terj.), Tim Mizan, cet. 1 (Bandung: Mizan, 2003), hal. 41.
[7]Hamzah Ya’qub, Filsafat Agama, Titik Temu Akal Dengan Wahyu (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1992), hal. 6.
[8]Jika kata hikmah itu ditafsirkan sebagai ilmu pengetahuan maka filsafatlah sebagai pendamping dan menjadi penafsir ilmu pengetahuan tersebut serta menyusun hasil-hasil pengetahuan alam dan sosial ke dalam suatu pandangan-dunia. Penafsiran ini pada gilirannya menentukan arah yang akan ditempuh ilmu pengetahuan dalam mengkaji alam. Namun demikian pengetahuan (sains) telah mendapat kritikan seperti yang tertulis dalam buku Islam, Secularism and the Philosophy of the Future, tetapi hal ini tidak mengapa, karena yang dikritik di sini adalah ilmu pengetahuan modern (sains modern) yang dianggap sebagai salah satu usaha dalam perjalanan menuju kebenaran, namun tak pernah dan tak dapat mencapainya, karena ia terlalu disibukkan oleh benda-benda alam (tabi’i) yang dianggap sebagai realitas akhir,sedangkan posisi benda-benda di dalamnya sebagai lambang-lambang bagi dunia makna yang ada di belakangnya telah dilupakan hal ini sering terjadi di saat ini.
[9]Louis O. Kattsof, Pengantar Filsafat, (terj.), Soejono Soemargono dari judul asli Element of Pholosophy, cet. 4 (Yogyakarta: Bayu Indra Grafika, 1989), hal. 1. Muzzayyin Arifin, Filsafat Pendidikan Islam, cet. 1 (Jakarta: Bumi Aksara, 1994), hal. 1.
[10]Sayyed Hossein Nasr, dkk (ed.), Ensiklopedi…, hal. 31.
[11]Omar Mohammad al-Toumy al-Syaibani, Filsafat Pendidikan Islam, (terj.), Hasan Langgulung, “Falsafah al-Tarbiyah al- Islamiyyah”, cet. 1(Jakarta: Bulan Bintang, 1979), hal. 25.
[12]Ibid.
[13]Oemar Amin Hoesin, Filsafah Islam (Jakarta: tp, 1961), hal. 14. Aboebakar Atjeh, Sejarah Filsafat Islam (Semarang: Toha Putera, 1970), hal. 6.
[14]Redikal berasal dari kata redix, berarti akar, dan biasanya akar menghunjam dalam tanah. Dengan demikian, pembahasan yang redikal berarti pembahasan yang mendalam tentang sesuatu, sehingga sampai pada hakikat sesuatu itu. Pembahasan tentang kepercayaan yang ghaib misalnya, dikaji dari awal proses timbulnya kepercayaan itu dalam sejarah umat manusia dan kenapa kepercayaan itu timbul. Faktor-faktor apa yang membuat manusia itu tidak tunduk kepada agama.
[15]Yang dimaksud dengan kebenaran menurut Al-Ghazali adalah mencari kebenaran yang hakiki, yaitu kebenaran yang tidak diragukan lagi, seperti sepuluh lebih banyak dari pada tiga. Sekiranya ada orang yang mengatakan bahwa tiga lebih banyak dari sepuluh dengan mengatakan bahwa tongkat bisa dijadikan ular, dan hal itu memang dia lakukan. Al-Ghazali mengagumi akan kemampuannya, akan tetapi sungguhpun demikian keyakinannya bahwa sepuluh lebih banyak dari tiga tidak akan goyang. Kebenaran semacam inilah yang ingin dicari oleh al-Ghazali. Akhirnya, al-Ghazali sampailah pada kebenaran demikian dalam tasawuf setelah dia mengalami proses yang amat panjang dan berbelit-belit. Tasawwuflah yang bisa menghilangkan keraguannya. Al-Ghazali, Al-Munqiz min al-Dhalal (Kairo: Dar al-Kutub al-Hadithah, 1974), hal. 130.
[16]Ibn Kencana Syafi`i, Al-Quran dan Ilmu Politik, cet. 1 (Jakarta: Rineka, 1996), hal. 384.
[17]Dalam dunia metafisika diungkapkan bahwa dunia merupakan kehendak dan idea. Kehendak ada di mana-mana dan membimbing segalanya. Kehendak untuk hidup adalah azas kehidupan dan kesadaran. Kehendak megendalikan pecerapan, memori, imajinasi, pertimbangan dan penalaran. Kita mencerap yang kita kehendaki untuk mencerap. Kehendak disebabkan oleh kekuatan tidak sadar dan merupakan dorongan yang menguasai intelegensi.
[18]Dalam dunia etika diungkapkan bahwa kehendak untuk ada, kehendak untuk hidup merupakan sebab dari semua perjuangan, kesedihan dan kejahatan dalam dunia. Perjuangan untuk hidup, akan menimbulkan kejelekan dunia dan kematian harus mengalahkannya. Kehidupan adalah jahat sebab hal itu mementingkan diri sendiri dan hina. Simpati, belaskasihan merupakan dasar dan patokan moralitas untuk menjadi baik, bahkan harus didorong oleh simpati. Kehendak mati dalam kehidupan estetik.
[19]Abu Hanifah, Rintisan Filsafat (Jakarta: tp, 1950), hal. 16.
[20]`Ali Mudfir, Kamus Filsafat Barat, cet. 1 (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001), hal. 6-7.
[21]Ibid.

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

<< Beranda