Sabtu, 21 Juni 2008

DAYAH MEUNASAH PUSAT PENDIDIKAN ULAMA ACEH DALAM PERSPEKTIF MASA DEPAN

DAYAH MEUNASAH

PUSAT PENDIDIKAN ULAMA ACEH DALAM

PERSPEKTIF MASA DEPAN

Oleh:

Muliadi Kurdi, S.Ag.,M.Ag

(Dosen IAIN Ar-Raniry Banda Aceh & Peneliti Ar-Rijal Institute)

Abstrak:

Dayah-Meunasah punya peranan penting dalam mengajarkan pendidikan agama bagi masyarakat Aceh dari generasi ke generasi. Sinkronisasi dan saling bersinerji kedua lembaga ini akan menghadirkan ulama-ulama yang memiliki kapabilitas dalam bidang pengetahuan agama. Meunasah telah digunakan sebagai tempat berlangsungnya proses belajar awal dalam pengkaderan ulama sebelum melanjutkan pendidikan agama di dayah-dayah.

Kata Kunci: Dayah dan Meunasah

Pendahuluan

Secara etimologi kata dayah diambil dari unsur bahasa Arab yaitu dari kata zawiyah artinya buju rumah atau buju mesjid.[1] Buju rumah dimaksudkan dari pengertian ini adalah sudut atau pojok rumah. Dikatakan sudut atau pojok rumah bahwa pada zaman Rasulullah saw., pengajaran dan penerangan tentang ilmu-ilmu agama kepada sahabat dan kaum muslimin sering beliau lakukan di sudut rumah atau di sudut mesjidnya.

Setelah zaman Rasulullah saw., kata zawiyah telah berkembang luas ke seluruh pelosok dunia Islam sampai ke Asia Tenggara. Dari perjalanan sejarah yang panjang kata zawiyah telah mengalami perubahan dialek sesuai dengan kapasitas daerah masing-masing.

Di Aceh, kata zawiyah diucapkan dengan sebutan dayah yang berarti tempat mengajarkan ilmu-ilmu agama. Dulu, orang Aceh sering menggunakan sudut, pojok atau serambi rumah dan mesjid untuk mengajarkan ilmu-ilmu agama kepada masyarakat. Dilihat dari persamaan makna dengan daerah lain di Pulau Jawa, dayah dapat disetarakankan dengan pesantren. Kendatipun demikian ada beberapa perbedaan yang penting, di antaranya adalah pesantren merupakan suatu tempat yang dipersiapkan untuk memberikan pendidikan agama, sejak dari tingkat rendah sampai ke tingkat belajar lebih lanjut.[2]

Di samping pengajaran dayah, Meunasah juga dipakai sebagai tempat mengajarkan ilmu-ilmu agama oleh masyarakat Aceh. Namun perbedaan antara kedua istilah ini; dayah adalah tempat belajar agama bagi orang-orang yang telah dewasa. Sementara pendidikan agama untuk anak-anak diberikan di Meunasah atau di rumah-rumah guru.[3]

Ditinjau dari sarana, pendidikan agama tingkat rendah yang diberikan kepada anak-anak ini dapat dibagi dua bagian. Yang pertama pendidikan agama untuk anak laki-laki yang mengambil tempat di Meunasah dan pendidikan agama untuk anak perempuan di rumah-rumah guru atau tempat khusus. Meskipun demikian materi dan tujuannya sama.

Setelah anak-anak tamat belajar al-Quran dan telah mampu melaksanakan ibadah wajib, maka tugas terakhir dari pendidikan Meunasah atau rumah adalah mempelajari kitab agama yang ditulis dalam bahasa Arab-Jawi (Melayu) seperti Masailal Muhtadi. Tujuan ini memberi bekal bagi anak-anak yang akan melanjutkan studi lebih lanjut di dayah.

Pendidikan dayah terkenal dengan istilah meuranto atau meudagang.[4] Bagi anak-anak Aceh yang mempunyai minat untuk mempelajari ilmu-ilmu agama lebih mendalam dapat dilakukan dengan cara meuranto atau meudagang ke berbagai dayah terkenal. Hal ini dilakukan setelah dia mampu mampu membaca al-Quran dan memahami cara-cara melakukan ibadah ketika dia belajar di Meunasah atau di rumah-rumah teungku. Dengan demikian fungsi Meunasah dan dayah akan sangat bernilai bagi masyarakat Aceh ketika dihubungkan dengan pengajaran ilmu-ilmu agama.

Eksistensi Meunasah dan Dayah di Aceh

Meunasah telah menjadi simbol kekuatan agama di samping simbol kebudayaan dalam masyarakat Aceh. Meunasah terdapat pada tiap-tiap Gampong dan tidak sempurna sebuah Gampong jika tidak adanya Meunasah. Karena itu Meunasah merupakan pusat pengendalian tatanan kehidupan agama dan budaya dalam masyarakat Aceh.

Dilihat dari aspek bangunan, Meunasah hampir sama dengan bentuk rumah-rumah adat orang Aceh pada umumnya, yaitu dilengkapi dengan jendela, dan ada sekatan-sekatan yang bertingkat sebagai pembatas ruang tengah dengan ruang belakang dan depan, fungsi sebagai tempat duduk para pemangku agama, adat dan masyarakat umum. Namun sekarang bentuk-bentuk Meunasah sudah banyak mengalami perubahan, mengikuti perkembangan zaman.[5]

Meunasah sekarang telah dilengkapi dengan berbagai sarana wudhu, pustaka, alat pengeras suara dan lain-lain. Namun satu hal tak boleh dilupakan yaitu Meunasah harus dilengkapi dengan tamboe, sebagai simbol media informasi untuk segala kepentingan masyarakat.[6]

Dilihat dari fungsi Meunasah di Aceh sejak belasan tahun yang lalu telah digunakan sebagai pusat pendidikan, tempat musyawarah/mufakat, pengembangan seni dalail khairat, meudrah, meurukon, meudaruh, olah raga dan lain sebagainya. Dengan berfungsinya Meunasah seperti ini, maka hampir semua aspirasi masyarakat dapat tertampung dan terealisasi dalam kehidupan praktis.

Meunasah berbeda dengan dayah dalam melaksanakan sistem pendidikan. Untuk memperoleh pendidikan di dayah mengharuskan seorang santri meninggalkan gampong halaman, meudagang atau meuranto. Karena tidak semua gampong memiliki dayah tapi memilki Meunasah. Jadi seseorang yang akan mendalami pengetahuan agama harus meuranto ke gampong lain bahkan ke pelosok-pelosok di seluruh Nusantara. Semakin jauh meuranto mendalami pengetahuan agama semakin dihargai dan semakin besar nilainya di mata masyarakat.

Kesan lain yang dapat dirasakan adalah seorang santri yang mengaji di dayah terkenal seperti dayah Labuhan haji, dayah Budi Merca (Lamno), dayah Mudi Mesra Samalanga, dayah Lhok Nibong dan lain sebagainya, sangat berbeda nilai yang belajar di dayah-dayah lainnya di Aceh. Alasan ini sangat terkait erat dengan pendiri dayah itu sendiri. Jika dayah seperti tersebut mayoritas didirikan oleh ulama yang paling banyak jasa terhadap agama, mempunyai karisma dan karamah. Setiap santri yang menuntut ilmu di dayah tersebut di samping memperoleh pengetahuan agama adanya barakah dan memperoleh kekayaan bathin. Perolehan barakah ini tidak pernah didapatkan jika pendiri dayah tersebut tidak memiliki karakter wara, ‘alim dan karamah. Demikian juga ilmu yang didapatkan seorang santri di dayah yang didirikan oleh seorang wara’ walaupun sedikit perolehan ilmu dianggap telah mendapat keberkahan secara terus-menerus.

Seorang santri ketika sudah belajar di dayah diwajibkan mengikuti aturan-aturan dan kurikulum dayah. Santri dibekali ilmu membaca kitab Arab gundul atau kitab kuning (klasik). Namun untuk bisa membaca kitab kuning tersebut sebelumnya harus belajar agama dengan mengaji kitab-kitab Arab-Meulayu (Jawi) ketika berada di Meunasah-Meunasah. Di samping belajar kitab santri dituntut mematuhi dan mengikuti segala peraturan yang berlaku seperti mengharuskan menetap di dayah dalam batas-batas tertentu dan tidak diperbolehkan pulang ke gampong halaman jika belum mahir membaca kitab kuning dan memahami hukum-hukum syara’ secara sempurna.

Di dayah santri dididik hidup mandiri dalam segala aktivitas, termasuk harus masak, menyuci pakaian, mengisi air kulah dan lain sebagainya. Santri juga dididik hidup penuh kedisiplinan menjaga waktu shalat berjamaah, waktu ngaji, jadwal piket pagi, waktu mandi, waktu makan dan lain sebagainya.

Ketentuan-ketentuan di atas harus dipatuhi oleh setiap santri dayah ketika bercita-cita belajar dan menjadi alumni dayah yang baik. Untuk itu, setiap santri dituntut kesabaran dan ketekunan. Tidak sedikit dari santri dayah itu hilang kesabaran sehingga tidak dapat menyelesaikan pendidikan dayah dengan baik. Orang-orang yang dipenuhi kesabaran dan ketekunan itulah yang paling lama menetap di dayah dan biasanya paling banyak mengetahui tentang dayah dan pengetahuan agama. Dengan demikian untuk mengorbit seorang ulama melalaui dayah itu amatlah berat sekali. Karena di sini, tidak hanya dituntut mahir dan memiliki kemampuan itelektual yang handal, tapi juga butuh pada kesabaran dan pengorbanan yang besar.

Perspektif Masa Depan Dayah di Aceh

Guru saya Prof. Dr. Safwan Idris menguraikan[7]makna perspektif masa depan secara panjang lebar. Beliau melihat masa depan itu dari dua sisi yang berbeda yaitu sisi optimistis dan sisi pesimistis. Kedua sisi ini masing-masing muncul dari usaha manusia memenuhi kebutuhan-kebutuhan, keinginannya, dan dari ekses-ekses yang muncul dari keinginan tersebut. Wujud dan bentuk masa depan sangat tergantung pada ideologi yang menjadi dasar bagi pencapaian masa depan itu, karena ideologi ilmu masa depan. Kenapa ideologi disebut ilmu masa depan, karena masa depan itu merupakan rencana-rencana dan idea-idea yang didasarkan pada pengalaman-pengalaman yang telah dibukukan menjadi ilmu. Mencapai suatu masa depan memerlukan sejumlah idea yang integral dan terpadu. Idea-idea ini dalam tingkat abstraksinya yang tinggi disebut ideologi.[8]

Dewasa ini di seluruh dunia terdapat bermacam-macam ideologi yang telah lama dirumuskan dan kadang-kadang masih dipakai sebagai alat merencanakan masa depan suatu masyarakat. Ada yang sudah nyata tidak dapat dimanfaatkan lagi seperti komunisme. Ada yang sudah berubah begitu rupa seperti komunisme dan sosialisme di Republik Rakyat Cina. Dari semua ideologi itu ada unsur-unsur penting yang membentuk suatu ideologi baru, yang meskipun tidak jelas, tetapi diam-diam dianut secara bersama-sama, meskipun kandungan isinya yang bervariasi. Ideologi itu dewasa ini tidak begitu explisit tapi terkemas dalam istilah-istilah seperti pembangunan, ilmu pengetahuan dan teknologi, industrilisasi, modernisasi, globalisasi, dan sebagainya.[9]

Meskipun berbagai masyarakat dewasa ini mengatakan memiliki kebudayaan dan ideologinya masing-masing yang agak berbeda tetapi kata guru saya hampir semua Negara nampaknya berorientasi pada kemasan tersebut. Guru saya menyebutkan masyarakat yang kapitalistis mengatakan bahwa merekalah sebagai pelopor dari ideologi yang tidak explisit tersebut. Masyarakat Islam pun mengatakan bahwa Islam sangat mengutamakan hal-hal yang tersebut dalam kemasan itu. Tetapi bedanya dalam pandangan guru saya, Islam memiliki nilai-nilai lain yang sangat penting dalam hidup yaitu nilai-nilai spiritual, keimanan dan ketaqwaan kepada Allah swt. Demikian juga masyarakat Barat dan Timur lainnya, meskipun di antaranya terdapat perbedaan yang mendasar di antara ideologi mereka, tetap menganut ideologi baru yang telah mendunia itu.

Ideologi dunia dalam kemasan di atas dalam pandangan guru saya berkembang begitu pesat lantaran didukung oleh masa media yang sangat aktif dan nampaknya sangat berkuasa. Jangkauan media masa ini sudah sangat luas dan dengan meningkatnya tingkat melek huruf berkait ekspansi pendidikan masa media modern seperti surat kabar, majalah sampai media elektronik sudah mencapai berbagai pelosok dunia. Media-media ini telah mampu menerobos batas-batas antarnegara sehingga secara otomatis mempengaruhi batas-batas ideologi yang ada selama ini. Dari media inilah masyarakat di pelbagai Negara mengenal dan mempelajari tentang peranan ilmu pengetahuan, teknologi dan keunggulan Negara-negara industri, tentang demokrasi, pembangunan, modernisasi, idustrialisasi, globalisasi dan sebagainya. Guru saya memprediksikan akibat dari deras dan gencarnya media modern ini mendakwahkan ideologi dunia yang baru, sehingga banyak Negara atau politisi di berbagai Negara yang kuatir terhadap pengaruh media ini.

Sesuai dengan ideologi yang sangat dominan ini, maka masa depan kita seperti yang sudah kita lalui adalah masa pembangunan, kelanjutan dari proses modernisasi dan demokrasi yang diikuti dengan industrilisasi dan globalisasi sebagai akibat daripada penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ideologi inilah yang telah menguasasi dunia ini sejak awal abad 20. Dalam pandangan guru saya ideologi ini yang menjadi salah satu pendorong munculnya pembaharuan-pembaharuan dalam Islam dan pembaharuan dalam pemikiran Islam. Kemudian guru saya juga mengatakan ideologi ini tetap akan menjadi basis umum sebagai perkembangan masyarakat kita dalam dekade-dekade yang akan datang.

Tantangan yang harus dihadapi dalam mewujudkan masa depan yang demikian juga banyak sekali. Guru saya memisalkan pembangunan sebagai realisasi penerapan ideologi yang baru itu akan melahirkan akses-akses yang sangat memprihatinkan. Di samping itu, akses industrialisasi dan penerapan teknologi baru misalnya, telah melahirkan berbagai dampak terhadap lingkungan hidup. Modernisasi dan globalisasi telah melahirkan ekses-ekses terhadap perilaku dan menimbulkan berbagai ketimpangan-ketimpangan perilaku. Untuk mengatasi ekses-ekses ini guru saya menyarankan perlu memperkuat landasan-landasan yang lebih mendasar bagi proses pembangunan sehingga proses tersebut dapat betul-betul mewujudkan keinginan manusia untuk hidup lebih sejahtera. Ditambahkannya adanya akses-akses dari proses yang sekarang ini menunjukkan bahwa ideologi yang dianut sebagai basis pengembangan masa depan masih memerlukan penyempurnaan-penyempurnaan karena masih kurangnya dimensi-dimensi dasar yang diperlukan dalam mencapai kesejahteraan itu.

Potensi Dayah di Aceh

Dayah berasal dari kata zawiyah yang bermakna sudut atau pojok telah berkembang pesat ke seluruh dunia Islam. Dari semua lembaga pendidikan agama yang berasal dari sudut atau pojok mesjid tersebut sempat berkembang menjadi Universitas seperti Universitas al-Azhar Kairo di Mesir. Mula-mula sebelum menjadi sebuah universitas yang besar pengajian di sudut-sudut mesjid dalam kurun waktu yang lama semakin hari semakin diminati oleh para kaum muslimin. Dengan demikian sarana belajar yang pertama dipakai di sudut mesjid ini berubah menjadi Universitas yang mampu menampung banyak santri di dalamnya. Mulai dari perkembangan ini Azhar University tidak hanya memberikan dan mengajarkan ilmu-ilmu keIslaman klasik bahkan juga mengajarkan teknologi informasi.

Di Aceh, pendidikan dayah telah diperkenalkan kepada masyarakat sejak beberapa abad sebelum kemerdekaan. Lembaga ini selain mengajarkan teknik membaca kitab-kitab agama bernuansa klasik yang bahasa Arab juga mengajarkan nilai-nilai universal dalam bidang pendidikan dan kemasyarakatan. Di sini telah lahir dan tercipta khas dayah bagi santri yang pernah mengecap pendidikan dayah yaitu memilki nilai-nilai lokal dan primordialnya. Nilai-nilai universal adalah nilai-nilai bersifat luas dan dianggap penting oleh masyarakat di dunia ini. Tetapi nilai-nilai lokal dan nilai-nilai primordial menurut guru saya, sangat terbatas pada masyarakat tertentu saja. Dalam konteks ini guru saya mengambil contoh sebuah Universitas yang asal-usul dari Barat, sekarang sudah diterima secara universal setelah sifat-sifatnya yang sagat lokal dan primordial dilepaskan. Sebalikanya dayah yang sudah diterima sebagai lembaga pendidikan yang universal di Asia Tenggara sejak zaman dulu, saat ini menjadi lembaga lokal yang hanya diminati oleh masyarakat yang terbatas.

Di era modernisasi dan industrilisasi yang pernah disebutkan guru saya sebelumnya, sifat-sifat lokal dan primordial akan menjadi kendala-kendala penting dalam perkembangan masyarakat. Guru saya melihat indikator ini terjadi pada dayah-dayah yang sangat tradisional yang membatasi ruang lingkup pelayanannya pada kelompok-kelompok terbatas saja. Tidak dapat dibantah bahwa lembaga-lembaga pendidikan pada mulanya lahir dari kebutuhan-kebutuhan terbatas, guru saya memisalkan ini seperti universitas-universitas di Barat yang pada mulanya lahir dari lingkungan Gereja. Tetapi lembaga-lembaga ini selanjutnya meluas keluar dari Gereja, karena di Barat ada sistem pemisahan antara negara dan Gereja. Dari pemisahan ini menurut guru saya, Universitas berkembang pesat menjadi lembaga yang besar dan diterima secara universal.

Pendidikan dayah telah mengajarkan ilmu-ilmu agama melalui telaahan dan bacaan kitab-kitab agama yang bernuansa klasik. Namun yang terpenting yang harus dimiliki dan diajarkan oleh dayah itu adalah pendidikan moral. Tanpa moral seorang santri tidak dapat dikatakan ulama walaupun ia memilki ilmu agama yang hadal. Di sinilah Nabi Muhammad saw., mengingatkan keberadaan moral melebihi ilmu yang dimilki oleh seseorang. Inti ajaran seperti inilah yang ditekankan pertama sekali ketika muncul pengajian di sudut-sudut mesjid yang berasal dari dayah atau zawiyah tersebut.

Pengajaran moral di dayah mempersiapkan genersi menjadi seorang ulama yang handal yang mampu mengdapi persoalan umat. Bahkan tidak sampai di sini, untuk menjadi ulama zaman, harus memahami dan mempelari pengetahuan umum di samping pengetahuan agama. Sistem ini telah dirintis dan diterapkan oleh Azhar university yang pertama sekali juga berangkat dari sudut-sudut mesjid.

Jika terjadi pemisahan antara pendidikan umum dan pendidikan agama di sebuah lembaga pendidikan kemungkinan besar akan menjadi seperti nasib Gereja di Barat sebagaimana dijelaskan guru saya sebelumnya, yakni hanya memikirkan agama sebagai suatu yang terbatas atau yang primordial. Sedangkan ilmu umum yang lebih mondial diserahkan kepada sekolah dan universitas-universitas. Bila ini terjadi, guru saya memprediksikan secara tidak sadar kita akan terjebak dalam ideologi sekuler. Ideologi sekulerisme memisahkan antara agama dan dunia, dan bila kita ikut menerima pemisahan ini dengan memberikan pendidikan agama pada dayah dan pendidikan umum pada sekolah kita pun sebenarnya sudah mengikuti faham sekuler. Jadi orang yang faham sekuler dalam pandangan guru saya bukanlah yang belajar dunia semata-mata, tetapi juga belajar agama semata-mata tanpa mengindahkan tanggung jawab dunia.

Kebutuhan masyarakat pada masa yang akan datang harus dijadikan dasar bagi pendidikan dayah di Aceh yang meliputi moral dan kebutuhan spritual. Nilai spiritual adalah nilai-nilai yang didapatkan karena kedekatannya dengan sang Khaliq. Nilai ini sangat berguna bagi penguatan kepribadian seorang manusia dalam menghadapi berbagai tantangan duniawi menuju kesejahteraan dan kedamaian bathin.

Kegagalan dalam membina aspek moral dan spiritual dalam pendidikan akan berefek pada merendahnya kualitas manusia yang akan dipersiapkan menjadi seorang pendidik atau ulama. Oleh karena itu, dayah yang berangkat dari sudut-sudut rumah, mesjid atau lanjutan dari pendidikan Meunasah di Aceh diharapkan dapat memberikan pencerahan dalam masalah ini. Masyarakat Aceh ke depan sangat mengharapkan Dayah Meunasah mampu melahirkan kader-kader ulama yang memiliki pikiran-pikiran bernas dan kapabilitas dalam menghadapi tantangan global.


DAFTAR PUSTAKA

al-Marbawi, Muhammad Idris Abdurrauf. Kamus Idris Al-Marbawi. tp: 1350 H.

Badruzzaman. “Peranan, Fungsi Meunasah dan Mesjid dalam Pemberdayaan Pemangku Adat UteunMakalah (2007).

Hajsmy, A. Sejarah Kebudayaan Islam di Indonesia. Jakarta: Bulan Bintang, 1990.

Idris, Safwan. “Pendidikan Dayah Dalam Perspektif Masa Depan”, Makalah Seminar Sehari (1993).

---------------. “Refleksi Pewaris Nilai-Nilai Budaya Aceh, Peta Pendidikan Dulu dan Sekarang”, Ar-Raniry, No. 73 (1998).

Saleh, Abdurrahman, dkk. “Penyelenggaraan Pendidikan Formal di Pondok Pesantren”, Proyek Pembinaan Bantuan Kependidikan Pondok Pesantren, 1984/1985 Ditjen Bimbaga Islam Departemen Agama RI.



[1]Muhammad Idris Abdurrauf al-Marbawi, Kamus Idris Al-Marbawi, (tp: 1350 H), hal. 272.

[2]Abdurrahman Saleh, dkk, “Penyelenggaraan Pendidikan Formal di Pondok Pesantren”, Proyek Pembinaan Bantuan Kependidikan Pondok Pesantren, 1984/1985 Ditjen Bimbaga Islam Departemen Agama RI, hal. 11.

[3]A. Hasjmy, Sejarah Kebudayaan Islam di Indonesia, (Jakarta: Bulan Bintang, 1990), hal. 192.

[4]Safwan Idris, “Refleksi Pewaris Nilai-Nilai Budaya Aceh, Peta Pendidikan Dulu dan Sekarang”, Ar-Raniry, No. 73 (1998), hal. 58.

[5]Badruzzaman, “Peranan, Fungsi Meunasah dan Mesjid dalam Pemberdayaan Pemangku Adat UteunMakalah (2007).

[6] Ibid.

[7]Untuk sebutan Prof. Dr. Safwan Idris dalam pembahasan lebih lanjut dari uraian ini, penulis cukup menyebutkan dengan sebutan guru saya saja.

[8]Safwan Idris, “Pendidikan Dayah Dalam Perspektif Masa Depan”, Makalah Seminar Sehari (1993).

[9]Ibid.

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

<< Beranda