Senin, 08 Desember 2008

MANJEMEN SEMUT

Oleh: Muliadi Kurdi


Secara kasat mata semut jenis binatang yang memiliki fostur kerdil dan tidak memiliki makna yang sangat berarti bagi manusia, bila dibandingkan dengan sejuta makhluk lain di bumi. Jenis makhluk ini dapat ditemukan dimana-mana, biasanya sering bersarang dan hidup di lembah yang sedikit basah, di bukit-bukit batu dan di celah-celah kayu yang sudah rapuh. Tapi, di balik fosturnya yang kerdil serta tempat tinggal yang kumuh itu, semut pernah membuat raja Nabiyullah Sulaiman as tersenyum ketika melewati sebuah lembah bersama bala tentaranya. Cerita ini terekam dalam al-Quran surat an-Namlu, ”...maka dia (Sulaiman) tersenyum lalu tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu....” (Qs. an-Namlu (27): 19). Hikmah di balik senyuman dan tawa Nabi Sulaiman dalam ayat ini meninggalkan kesan betapa semut memiliki bahasa diplomasi yang santun dan berwibawa serta kesadaran dan kesatuan sosial yang tinggi untuk menjadi pelajaran berharga jika dihayati dan diambil’iktibarnya.
Kisah al-Quran menyebutkan bahwa Nabi Sulaiman as adalah salah seorang pilihan, penerus tahta kerajaan Daud as. Ia telah dianugerahkan kekuasaan dan ilmu yang luar biasa sehingga mampu berkomunikasi dan memahami bahasa manusia, jin, dan burung serta makhluk lainnya. Ketika al-Quran mengulang kembali kisah perjalanan Nabi Sulaiman di suatu lembah hingga mendapatkan masyarakat semut, berkatalah seekor semut: ”Wahai semut-semut masuklah ke dalam sarang-sarang kalian, agar kalian tidak diinjak oleh Sulaiman dan bala tentaranya, karena mereka tidak menyadari”.
Dalam ayat berikutnya al-Quran menjelaskan, maka dia (Sulaiman) tersenyum lalu tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa, ”Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh” (Qs. an-Namlu (27): 18-19).
Kata semut yang diistilah al-Quran dalam ayat (18) dari surat an-Namlu di atas, mengungkapkan dengan perkataan ”qalat namlah”, artinya secara bahasa Arab bentuk semut itu adalah betina. Boleh jadi dalam kalimat itu semut betina yang menjadi penyeru pasukan semut atau ada kemungkinan semut betina itu adalah ratu bagi masyarakat semut lain. Namun para pemerhati semut mengatakan, dalam dunia semut tidak ada pemimpin, perencanaan, atau pemograman. Dan yang terpenting adalah bahwa tidak ada rantai komando. Tugas-tugas terumit dalam masyarakat ini terlaksana tanpa tertunda karena adanya organisasi diri yang sangat tinggi, misalnya bila komunitas mengalami paceklik, semut pekerja segera berubah menjadi semut "pemberi makan" dan mulai memberi makan sesamanya dengan partikel makanan dalam perut cadangannya. Bila suatu komunitas kelebihan makanan, mereka melepaskan identitas ini dan kembali menjadi semut pekerja.
Sebagai jenis serangga eusosial yang berasal dari keluarga formisidae, dalam pendapat para ilmuan, semut termasuk dalam ordo Himenoptera bersama dengan lebah dan tawon. Semut terbagi atas lebih dari 12.000 kelompok, dengan perbandingan jumlah yang besar di kawasan tropis. Semut sebagai makhluk yang memiliki sarang-sarangnya yang teratur, yang terkadang terdiri dari ribuan semut dengan komunitasnya masing-masing. Jenis semut dibagi menjadi semut pekerja, semut pejantan, dan ratu semut. Satu komunitas semut dapat menguasai dan memakai sebuah daerah luas untuk mendukung kegiatan mereka. Komunitas semut kadangkala disebut superorganisme dikarenakan mereka yang membentuk sebuah kesatuan sosial.
Telah bertahun-tahun para pemerhati semut seperti Caryle P. Haskins, kepala Institute Carnegie di Washington, melakukan penelitian mendalam tentang perilaku sosial semut. Setelah menghabiskan waktu selama 60 tahun dalam penelitian dan pengkajian ia mengatakan: ”saya sangat kagum melihat betapa canggihnya perilaku sosial semut. Semut merupakan model yang indah untuk kita gunakan dalam mempelajari akar perilaku hewan. Makhluk ini memiliki disiplin yang sangat mirip dengan disiplin militer. Berbagai sistem kasta dalam komunits semut menjalankan tugas mereka secara sempurna, meskipun tanpa komando pusat yang terlihat mengawasi mereka”.
Uraian di atas telah meninggalkan pesan-pesan yang dapat kita petik pelajaran dari perilaku semut. Pertama, Hormat dan menghargai. Masyarakat semut hidup menghormati yang tua atau yang dituakan dan menyayangi, menasehati yang muda-muda, dari sikap ini tumbuh rasa kesadaran saling toleransi dan menyayangi. Kalau ada teman yang meninggal dikuburkan, kalau ada makanan diangkut secara bersama-sama ke sarang untuk disimpan dan mereka makan bersama di musim-musim tertentu.
Kedua, Etos dan sumber daya masyarakat semut dapat diamati ketika mereka membuat sarang baik sebagai tempat bekerja, musyawarah atau sarang sebagai rumah-rumah yang akan mereka tempati selalu ditata dengan baik. Pekerjaan ini sering dilakukan secara berjamaah; tanpa terhenti sebelum usai melaksanakan tugas yang telah diamanahkan. Ketiga, masyarakat semut sangat menghargai dan taat perintah bahkan hampir dipastikan tidak ada semut yang berani membatah tatkala mendengar perintah, hal ini dapat dilihat dari ayat (18) surat an-Namlu ketika ada di antara mereka berkata, tidak ada yang membantah, mereka patuh dan taat. Ketaatan dan kepatuhan yang diperlihatkan oleh masyarakat semut dalam ayat ini mengambarkan adanya keadilan dan kesejahteraan sehingga tumbuh kesadaran mematuhi dan mencintai perintah.
Keempat, masyarakat semut selalu hidup rukun dan damai dengan menyebarkan salam, ketika bertemu selalu berjabat tangan yang menandakan rasa ukhwah yang tinggi. Semut tidak pernah menyakiti, memukul dan membunuh antara sesama, dan tidak pula menyakiti yang lain. Tetapi jika ada yang disakiti atau dibunuh, maka secara bersama-sama semut memberontak dan meminta keadilan. Kelima, masyarakat semut memiliki tanggung jawab dalam suatu pekerjaan yang telah diamanahkan, ini mencerminkan suatu etika/akhlak yang patut diteladani oleh manusia.
Misalnya, semut-semut yang telah menerima amanah menduduki jabatan sebagai penjaga sarang, penjaga pintu gerbang, administrator atau menjadi rakyat, dengan senang hati dan penuh kesadaran akan melaksanakan tugas masing-masing dengan sebaik-baiknya. Keenam, semut memiliki tingkat pengorbanan diri yang sangat tinggi. Makhluk ini selalu mengundang temannya ke setiap sumber makanan yang ditemukan dan berbagi sama rata. Ketujuh, semut juga mempunyai bahasa diplomasi yang santun ketika berbicara antara sesama semut. Keunikan ini membuat Sayyed Qutub kagum dan mengatakan bahwa kisah yang diuraikan al-Quran itu adalah peristiwa luar biasa yang tidak terjangkau hakikatnya oleh nalar manusia (al-Misbah (10): 205).
Inilah sebahagian kecil petikan hikmah senyum dan tawa Nabi Sulaiman as ketika melihat masyarakat semut. Alangkah agungnya filosofi semut dalam gambaran al-Quran untuk menjadi ’ibrah atau keteladanan bagi manusia. Ketika masyarakat hidup seperti semut atau perilaku semut telah menjadi bahagian dari masyarakat kita, maka dapat dipastikan akan terwujudnya suatu sistem pemerintahan yang kuat dan adil serta tercipta tatanan kehidupan sosial yang rapi dalam mengisi pembangunan bangsa.

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

<< Beranda