Jumat, 15 Mei 2009

MENUJU FIRDAUSA

Oleh: Muliadi Kurdi

Firdausa adalah salah satu nama syurga dari syurga-syurga yang diciptakan Allah di kampung akhirat (dar al-akhirah). Syurga itu difungsikan sebagai tempat yang penuh kenikmatan, kesejukan, kedamaian dan keberkahan di dalamnya. Masyarakat syurga dihuni oleh orang-orang suci yaitu orang-orang yang memiliki iman, taqwa, taat, khalis, berakhlak, bermoral, beretika, memiliki kasih sayang antarsesama dan lain sebagainya. Tentu saja mereka di sana memiliki karakter terpuji dengan bahasa yang sangat santun dalam menyapa. Mengucapkan asma Allah dan kata-kata mulia di sana menjadi kenikmatan yang tiada tara. Prinsip-prinsip hidup seperti inilah setidaknya menjiwai dan dimiliki oleh umat Islam ketika ia mencita-cita hidup di negeri syurga.
Disebutkan syurga itu tempat kemewahan yang disediakan dengan berbagai fasilitas yang serba cukup. Syurga itu didapatkan bukan secara kebetulan atau karena rajin dan sering melakukan amal kebaikan. Tapi tempat ini sebagai hadiah atau kemurahan Allah kepada hamba yang memiliki prinsip hidup seperti di atas. Karena jika bukan karena kerahmanan Allah kepada hamba yang dikasihi-Nya itu mana mungkin mereka akan memperoleh syurga yang begitu mahal yang tidak mungkin dihargai dengan material dan ditukar dengan seluruh amal yang pernah dikerjakan selama hidupnya. Ini menjadi cacatan pinggir kita bahwa dalam melakukan segala amal dan ibadah kita. Oleh karena itu, wajar saja ketika salah seorang ahli ibadah, Rabi’ah al-Adawiyah, lewat syairnya pernah ia ratapi, ”Ya Allah aku tidak pantas mendapatkan syurga-Mu, tapi aku tidak tahan api neraka maka ampunilah dosa-dosaku”.
Syair itu memperlihatkan betapa manusia itu sebenarnya tidak pantas untuk menempati syurga yang disediakan begitu sempurna. Perlu dicatat bahwa pada prinsipnya karakter manusia (dalam kapasitas sebagai makhluk) sangat suka pada kemewahan dan kenikmatan. Kemewahan dan kenikmatan itu ada yang diperoleh secara mudah dan ada pula yang didapatkan dengan usaha dan doa. Tapi syurga tidak mungkin diperoleh dengan cara mudah tanpa menempuh jalan ke sana yakni kepatuhan atau ketaqwaan kepada-Nya.
Di dalam menjalani hidup, kita dapat contohkan pola hidup di syurga sama ada dengan pola di dunia. Ketika masyarakat yang paling pedesaan diminta tinggal di kota dengan disediakan sebuah rumah mewah yang dilengkapi perlatanan perabotan serba ada apa sudah tentu ia mau terima, belum pasti. Biarpun ia memiliki hasrat untuk menempati rumah itu, tapi batinya tidak memiliki beberanian untuk menetap di di sana. Misal lain, ketika ada sebuah forum yang diahdiri oleh para tokoh-tokoh agama dan orang-orang terpandang, lalu secara tiba-tiba diundanglah seseorang untuk datang ke acara itu, apa tentu mau?. Mungkin ia berfikir saya tidak pantas bergabung dan duduk bergandingan dalam forum itu. Demikian juga di akhirat, kitika Allah menceritakan perihal syurga dengan kemewahan di dalamnya pada jamaah mahsyar, tidaklah semua jamaah tersenyum dan bercita-cita ingin ke sana bahkan mungkin ada yang ingin dimasukkan ke neraka. Mereka merasa tidak pantas dan sangat malu masuk untuk ke syurga, karena ketika di dunia mereka tidak pernah sama sekali mencita-citakannya. Hidup mereka larut dalam kemewahan dunia; mengejar kekayaan, kekuasaan dan kecantikan wanita sampai akhir hayatnya tidak pernah berbuat baik (taubat) kepada-Nya. Manusia seperti ini yang digambarkan al-Quran yang sangat merugi (khasiriin) karena telah terkunci hatinya untuk kebaikan ketika ia hidup.
Perilaku seperti di atas tidak sedikit terjadi pada umat Islam saat ini, saya setuju apabila ini dikatakan krisis keimanan dan moral. Padahal kedua prinsip ini telah menjadi dasar-dasar hidup bagi penganut Islam. Islam telah mengajarkan bagaimana cara hidup bersih, kedisiplinaan dan langkah-lakah lain yang harus ditempuh untuk memperoleh syurga (kasih sayang Allah Swt). Salah satu prinsip ini dapat kita lihat di dalam hadits yang diriwayatkan oleh sayyidina Umar ra, ia berkata: Rasulullah Saw bersabda: "Tiada seorang pun di antara kamu yang berwudhu dengan sempurna, kemudian berdo'a: Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah Yang Esa tiada sekutu bagiNya dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu hamba-Nya dan utusan-Nya,-kecuali telah dibukakan baginya pintu syurga yang delapan, ia dapat masuk melalui pintu manapun yang ia kehendaki." Diriwayatkan oleh Muslim dan Tirmidzi dengan tambahan (doa): "Ya Allah jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertaubat dan jadikanlah aku pula termasuk orang-orang yang selalu mensucikan diri."
Hadits ini menjelaskan tentang prinsip keimanan dan kedisiplinan dalam melaksanakan ibadah kepada-Nya. Allah telah memberikan peluang yang besar kepada hamba-Nya yang mau ke sana. Di dalam al-Quran Allah menyeru manusia ke Darussalam (syurga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam). (Qs. Yunus (10) : 25).
Patut kita catat bahwa untuk menggapai firdausa itu tentu saja harus ditempuh dengan berbagai pendekatan seperti disebutkan, salah satunya taqwa. Apabila semua ketentuan itu mampu direalisasi dan kerjakan dengan sempurna, dalam pemahaman fikih Islam bahwa amal kita telah diterima di sisi-Nya. Saya ingat kaidah ini dalam sebuah syair Arab yang tertuang di dalam kitab Balaghah Waadhihah, ketika dulu saya masih di jurusan bahasa Arab, Idza niltu min ka al-wudda fa al-malu hainun, fa kullulladzi fauqa turab turab” maksudnya, ”jika ku raih kasih sayangmu harta itu tidaklah berguna......”. Demikian juga ketika kita mampu meraih kasih sayang Allah, maka firdausa itu tidaklah berguna bagi Allah Swt, semoga!.

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

<< Beranda