Senin, 08 Desember 2008

HADITH MASA TABI’IN

Oleh: Muliadi Kurdi

Periode ketiga (41-100 H) ini mulai sejak habisnya pemerintahan khulafaur Rasyidin sampai akhir abad 1 Hijriah atau mulai tahun 41 H sampai tahun 100 H. Tepatnya akhir pemerintahan Ali bin Abi Thalib, awal pemerintahan Mu’awiyah bin Abi Sufyan, masa tabi’in hingga akhir abad 1 H. Periode ini disebut zaman Intisyari ar-Riwayati ila al-Amshari, artinya zaman penyebaran riwayat ke kota-kota.
Disebut zaman penyebaran riwayat ke kota-kota barangkali pada masa itu periwayatan hadith sudah sangat bebas dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu ke berbagai daerah dan kota untuk mendapatkan dukungan umat Islam, khususnya penyebaran hadith-hadith palsu yang dibuat sendiri oleh masing-masing golongan.
a. Kondisi sosial politik periode ketiga abad 1 Hijriah (41 – 100 H)
Perpecahan umat Islam dalam beberapa golongan (Khawarij, Syiah dan Mu’awiyah) pasca peristiwa Shiffin di akhir pemerintahan Ali bin Abi Thalib, lebih berkembang dan meluas pada periode ini. Pada awal perpecahan, perbedaannya sebatas persoalan politik. Sedangkan pada periode ketiga ini, perbedaan tersebut berkembang hingga kepada persoalan aqidah dan ibadah. Ketiga golongan itu saling merebut pengaruh dan dukungan masyarkaat, bahkan saling berusaha menjatuhkan lawan. Oleh karena itu, masing-masing golongan secara terang-terangan dan tidak segan-segan membuat hadith-hadith palsu.
Usaha-usaha pembuatna hadith-hadith palsu ini, pertama-tama dimulai oleh golongan Syi’ah, kemudian diikuti oleh golongan yang lain sedangkan pusat pembuatan hadith palsu pada masa itu adalah kota Irak.
Contoh hadith palsu yang dibuat oleh golongan Syiah ialah : Artinya: “Siapa yang mati dan dalam hatinya ada rasa benci kepada Ali, maka hendaklah mati sebagia orang Yahudi atau Nasrani.”
Sebagai reaksi atas pemalsuan hadith di atas, maka golongan pro Mu’awiyah juga membuat hadith palsu, seperti:

Artinya: “Orang yang terpecaya oleh Allah hanya tiga, yaitu Aku (Nabi), Jibril dan Mu’awiyah.” Contoh hadith yang dibuat oleh golongan Khawarij, antar lain: Artinya: “Jika kamu menerima hadith dari saya, cocokkan dahulu dengan Al-Qur’an”.
Melihat kondisi masyarakat Islam seperti itu, ulama dari kalangan sahabat dan thabi’in saat itu tidak tinggal diam dalam menghadapi pemalsuan hadith. Mereka berusaha dengan gigih kemurdian ajaran-ajaran Nabi dengan berbaga cara. Antara mengadakan perjalanan-perjalanan ke berbagai daerah Islam untuk mengecek kebenaran hadith-hadith sampai kepadanya, baik mengenai sanad hadith maupun matannya.
Mereka sangat hati-hati menerima penyampaian hadith-hadith yang dikatakan dari Nabi kemudian hasil penelitiannay diberitahukan kepada umat Islam dengan menerangkan kwalitas Islam dan pribadi para perawinya secara terus terang, umat Islam dapat membedakan mana hadith shahih dan mana hadith yang tidak shahih mana perawi yang dapat dipercaya riwayatnya dan mana yang tidak dapat dipercaya.

b. Kebijaksanana pemerintah terhadap periwayatan hadith
Agaknya, dapat dikatakan bahwa, pemelihara hadith ketika itu lebih aktif dilakukan oleh masyarakat Islam yang prihatin terhadap keberadaan hadith terutama para ulama dari kalangan sahabat dan thabi’in. karena pihak pemerintah tidak berusaha mengadakan pembatasan terhadap periwayatan hadith. Bahkan mereka sendiri (pendukung Mu’awiyah) gencar membuat hadith-hadith palsu untuk menjatuhkan golongan Khawarij dan Syiah.
Keadaan itu berlangsung lama hingga beberapa waktu, baru ketika khalifah Umar bin abdul Aziz, memerintah tahun 99 101 H, menaruh perhatian yang sangat besar terhadap hadith nabi. Umar berusaha memurnikan kembali hadith-hadith nabi dari pemalsuan-pemalsuan yang selama ini dilakukan oleh para pendahulunya, oleh karena itu, umar menganggap perlu mengadakan pembukuan hadith-hadith Nabi.
Selain itu banyaknya ulama dari kalangan sahabat dan thabi’in yang wafat, mendorong Umar mempercepat menghimpun dan membukukan hadith-hadith Nabi disamping juga, persoalan yang dihadapi umat Islam semakin kompleks. Hadith nabi adalah suatu kebutuhan di samping al-Qur’an sebagai pedoman. Lalu Umar segera menginstruksikan kepada para gubernur dari semua daerah supaya menghimpun dan menulis hadith-hadith Nabi.
Menurut Ahmad Amin dalam kitabnya Dhuha al-Islam, Juz II halaman 106-107, bahwa orang yang pertama-tama menghimpun hadith-hadith Nabi atas instruksi Khalifah Umar bin Abdul Aziz ialah Abu Bakar bin Hazm, gubernur Madinah. Dia menghimpun sekitar tahun 100 H. menurut pendapat yang populer di kalangan ulama hadith, bahwa penghimpun hadith yang pertama ialan Ibnu Shihab Az-Zuhri.
Para ulama muhadditsin berpendapat bahwa para sahabat yang terbanyak dalam periwayatan hadith adalah sebagai berikut:
1. Abu Hurairah atau ‘abd, Rahman bin Sakhr al-Dawsy al-Yamani r.a. lahir pada tahun 19 H. dan wafat tahun 59 H. jumlah hadith yang diriwayatkannya sebanyak 5374 buah;
2. Abdullah bin ‘Umar bin al-Khathab r.a. lahir pada tahun 10 H dan wafat pada tahun 73 H. dengan jumlah hadith yang diriwayatkannya sebanyak 2630 buah hadith;
3. Anas bin Malik r.a. lahir pada tahun 10 H dan wafat pada tahun 93 H. dengan jumlah hadith yang diriwayatkannya sebanyak 2286 buah hadith;
4. Aisyah binti Abu Bakar al-Shiddiq Ummi Al-Mukminin r.a. lahir pada tahun 9 H. dan wafat pada tahun 58 H. tetapi ada juga yagn mengatakan tahun 57 H. dengan jumlah hadith yang diriwayatkannya sebanyak 2210 buah hadith;
5. Abdullah bin Abbas bi ‘Abd. Al-Muthalib ra., lahir pada tahun 3 H., wafat pada tahun 68 H. Jumlah hadith yang diriwayatkannya sebanak 1660 buah;
6. Jabir bi ‘Abdullah al-Anshari ra., lahir pada tahun 6 H, wafat pada tahun 78 H, dengan jumlah hadith yagn diriwayatkannya sebanyak 1540 buah hadith;
7. Abu Sa’id al-Hudhry atau sa’ad bin Malik bin Sunan al-Anshary r.a. lahir pada tahun 12 H., wafat pada tahun 74 M. Jumlah hadith yang diriwayatkannya sebanyak 1170 buah hadith (Muhammad Ajjaj al-Khathib, hal. 404-405);
Menurut muhadithin tokoh-tokoh hadith dari kalangan tabi’in baik yang berasal dari kota Madinah, Kuffah, Basrah, Mekkah, Syam, Mesir dan Yaman adalah sebagai berikut:
1. Sayyid al-Musayyab (15-94 H), Al-Qasim bin Muhammad bin Abi Bakar al-Siddiq (37-107 H), ‘Urwah bin al-Zubair (w. 94 H), Khatijah bin Zaid bin Tsabit (29-99 H), Sulaiman bin Yasar 34-107 H), 7Ubaidillah bin Abdullah bin ‘Utbah bin Mas’ud (w. 98 H), Abu Salamah bin Abdurrahman bin ‘Auf (w. 94 H) dan Salim bin Abdullah bin Umar (w. 106 H) adalah tokoh-tokoh hadith di kota Madinah;
2. ‘Alqamah al-Nakha’y (28-62 H), Al-Aswad bin Yaziz al-Nakha’y (w. 75 H) adalah tokoh-tokoh hadi di kota Kuffah;
3. Al-Hasan al-Basry (21-110 H), Muhammad bin Sirrin, Qatadah dan lain-lain adalah tokoh-tokoh hadith di kota Basrah;
4. ‘Atha’ bin Abi Rabah (27-114 H), Ikrimah, Abu al-Zubair, Muhammad bin Muslim dan lain-lain adalah tokoh hadith di kota Makkah;
5. ‘Umar bin Abdul Aziz, Qabshah bin Dzuaib adalah tokoh hadith di kota Syam;
6. Abu Al-Khair Martsab bin Abdullah al-Yaziny, Yaziz bin Habib adalah tokoh hadith di kota Mesir;
7. Thaus bin Kaisan al-Yamany, wahab bin Munabbin (w. 110 H) tokoh hadith di kota Yaman.

* tulisan ini bahagian dari buku pengantar hadith yang sedang diselesaikan.

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

<< Beranda