Senin, 27 Februari 2012

Pengantar Buku, Ulama Aceh, dalam Melahirkan Human Resource

Oleh; Muliadi Kurdi
“Tinta ulama tidak kalah dibandingkan dengan darah syuhada” karena ulama selalu mengajarkan, mencurahkan dan mencerahkan kehidupan anak manusia. Ulama dianggap pelita yang menerangi kegelapan umat, obor yang menggairahkan suasana ala mini. Lebih penting lagi, tinta ulama tidak pernah kering dan selalu menggoreskan hati sanubari manusia untuk bangkit menuju kehidupan yang lebih baik.
Dalam konteks sejarah, Aceh melahirkan banyak ulama dengan variasi karya dan kontribusinya dalam berbidang keilmuan. Lembaga pendidikan agama tempo dulu (baca: dayah) lebih concern pada pembelajaran ilmu agama yang menjadi embrio kelahiran alim ulama. Memang, Aceh memiliki sejarah panjang dalam melahirkan para ulama dengan segala kontribusi pemikiran untuk kemajuan. Kontribusi ulama di Aceh sejak dimulai sejak pertama kali Islam menjadi agama resmi di Kerajaan Aceh. Dalam bidang politik, ulama menjadi mitra raja dalam pengambilan kebijakan. Titah raja dijadikan sebagai adat yang dilandasi pada syariat. Dengan kata lain, tidak boleh ada adat yang berlainan dengan syariat. Pemikiran dan kontribusi ulama pada masa ini menjadi pilar kejayaan dalam hidup berpolitik.
Ulama juga ikut memberikan kontribusi luar biasa ketika penjajah hendak mengeksploitasi negeri ini. Perannya bukan hanya pada tatara sumbangan pemikiran, tetapi juga ikut berjuang di medan perang. Dalam catatan sejarah, banyak ulama Aceh yang syahid dalam perang melawan Belanda.
Dalam bidang sosial budaya, ulama di Aceh telah meletakkan dasar-dasar kehidupan bagi umat Islam khususnya di Aceh dalam berinteraksi baik intern maupun antar umat beragama. Dalam bidang ekonomi, ulama telah melahirkan konsep muamalah yang sesuai dengan kemaslahatan manusia dengan prinsip: la dharar wa la dhirar (tidak membahaya dan dibahayakan). Dalam bidang pendidikan, ulama telah merintis lembaga pendidikan untuk mendidikan kader di seluruh penjuru Aceh bahkan di nusantara dan kawasan internasional.
Pemikiran dan langkah mereka tersebut menjadi core bergerak bagi generas sekarang dan mendatang dengan memodifikasinya sesuai dengan hajat zaman dan makan (tempat). Pembangunan Aceh ke depan tidak boleh terlepas dari panduan dan siraman para ulama yang terukir dalam catatan emasnya. Catatan itu berserakan dalam lembaran kitab, piagam, nisan, dan seterusnya. kelihaian dan kecerdasan ulama Aceh terlihat dalam mahakarya yang pernah dihasilkannya. Teungku Syiah Kuala, laqab Abdurrauf al-Singkily, telah melahirkan tafsir perdana di bumi Asia Tenggara berbahasa Melayu. Dibandingkan dengan masa sekarang, zamannya Abdurrauf termasuk masa yang seraba terbatas baik referensi maupun ketersediaan bahan material untuk penulisan. Demikian pula terlihat bagaimana kegairahan al-Tarusani dalam melahirkan sebuah kitab hukum. Kitab yang dilahirkannya itu merespon persoalan umat masa itu baik terkait dengan hukum pidana atau perdata. Substansi pemikiran hukum itu dielaborasi secara baik dalam mahakaryanya Safinat Al-Hukkam Fi Takhlish Al-Khassam.
Kemampuan sastra ulama Aceh juga tidak terkalahkan. Teungku Chik Pante Kulu telah melahirkan sebuah hikayat “prang sabi”. Hikayat prang sabi telah menghibur para pejuang untuk terus bergerak maju melawan penjajah. Hikayat laksana obor api yang menghangatkan suasan dan mampu suasana melawan penjajah.
Pemikiran-pemikiran tersebut sebagian dituangkan dalam karya mereka yang sebagiannya sudah usang di makan usia, sebagian yang lain hancur karena bencana. Seandainya tidak ada usaha maksimal dari generasi sekarang untuk menyelamatkan “peunulang” tersebut, maka masyarakat Aceh ke depan tak ubah bagaikan anak “mantan” orang kaya. Anak yang tidak bijak, menyia-nyiakan turath (peninggalan) orang tuanya sehingga ia menjadi orang yang tidak ada bekal hidup.
Buku ini merupakan di antara salah satu usaha menuju ke arah tersebut dengan maksud merekam kembali pemikiran ulama Aceh dalam lintas sejarah, baik itu dalam terakumulasi dalam tulisan terutama bagi mereka yang telah dipanggil Tuhannya maupun yang masih hidup melalui hasil wawancara dengan mereka.
Buku ini laksana setetes air dalam lautan pemikiran ulama yang amat luas. Tentu tidak dapat mengakomodir substansi pemikiran ulama Aceh dalam lintas sejarah secara komperehansif dalam melahirkan human resource di Aceh. Untuk itu, kehadiran karya ini diharapkan ini menjadi “cemeti” bagi generasi Aceh dalam merenungi dan menghikmahi usaha yang pernah dicetus ulama Aceh di masa lalu untuk mengisi pembangunan Aceh....tulisan ini merupakan komentar buku, "Ulama Aceh dalam Melahirkan Human Resource, Muliadi Kurdi (ed.).

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

<< Beranda